IBNU C.R

IBNU C.R

Rabu, 10 Oktober 2012

ETIKA BISNIS




                                             CONTOH ETIKA BISNIS YANG TIDAK BAIK


Selama ini bisnis di Indonesia kurang memperhatikan aspek etika. Yang ada hanyalah mengejar keuntungan semata. Pebisnis sama sekali tidak memperhatikan kepentingan konsumen. Menurut Firdausy, bisnis dalam era sekarang ini semuanya berorientasi mereguk keuntungan semata, tanpa memperhatikan sisi etika dan kepentingan konsumen. Akibatnya, tidak jarang banyak konsumen menjadi korban. "Untuk mengatasi kondisi tersebut, perlu disusun konsep dan etika dari produk-produk Iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi), sehingga tidak merugikan masyarakat," katanya.
Dia mengatakan, dari berbagai kasus yang menimpa konsumen dan masyarakat umum selama ini, diperlukan sebuah konsep etika, agar pelaku bisnis bisa memberikan keuntungan juga bagi masyarakat.
Dia mencontohkan, ada produk pangan dari Iptek, maka secara etika, produk pangan yang dihasilkan, baik oleh perorangan maupun perkumpulan lembaga itu, disampaikan juga kepada masyarakat tentang komponen apa saja yang digunakan sehingga tidak merugikan masyarakat selaku konsumen.
Firdausy menyebutkan, beberapa prinsip yang perlu dimiliki dalam bisnis, yakni otonomi, kejujuran, saling menguntungkan, integritas moral, keadilan atau keuntungan pada masyarakat konsumen dengan tidak boleh ada yang dirugikan.

SURABAYA, KOMPAS.com – Polisi membeberkan ciri-ciri paling mudah untuk membedakan ijazah palsu dan asli. Kanit II Haki, Subdit I Ekonomi Ditreskrimsus Polda Jawa Timur, Kompol Andy Arisandi menjelaskan, form kertas ijazah asli dikeluarkan oleh perusahaan kertas milik negara, Perum Peruri yang dilengkapi logo atau tanda khusus. ”Ijazah palsu hanya form kertas cetakan biasa,” katanya di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (13/6/2012). Sebelumnya, diberitakan, polisi berhasil mengungkap praktik pemalsuan ijazah atas nama beberapa Perguruan Tinggi Swasta (PTS) di Jatim. Ijazah palsu untuk S1 dan akta IV dibandrol Rp 12,5 juta, S2 seharga 20 juta, dan S3 dijual Rp 70 juta. Pelakunya ditangkap jajaran Ditreskrimsus Polda Jatim, akhir Mei lalu. Selain jenis kertas, ijazah palsu juga dapat dilihat dari hologram yang menempel di form kertas ijazah. Pada ijazah asli, hologram menjadi satu kesatuan dengan form kertas yang dikeluarkan Perum Peruri. Sementara hologram pada ijazah palsu dibuat sendiri dan ditempelkan di bagian tertentu.

Sindikat pemalsuan ijazah di Jawa Timur dibongkar Polda Jatim. Sindikat yang beroperasi sejak 2007 telah membuat ratusan ijazah palsu jenjang S-1, S-2, dan S-3 dari sejumlah perguruan tinggi ternama.

Ijazah palsu buatan sindikat yang dipimpin Sucipto, warga Jalan Hasanudin, Malang ini diduga telah beredar luas di berbagai kalangan di Jawa Timur. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Hilman Thayib menjelaskan, sindikat pembuat ijazah palsu tersebut terungkap dari hasil penyelidikan berbagai kasus pemalsuan ijazah yang melibatkan politisi. Dalam pemeriksaan, kasus-kasus ini bermuara pada satu sindikat pemalsuan di Malang.

Setelah ditelusuri,muncul nama Sucipto yang ternyata adalah bos sindikat tersebut. “Selanjutnya tersangka kami intai dan berhasil kami tangkap saat bertransaksi untuk membuat ijazah palsu di Malang,” ujar Hilman di Mapolda Jatim, kemarin.

Sucipto lalu digelandang di rumahnya, Jalan Hasanudin, Malang. Di tempat itu polisi menemukan ratusan lembar ijazah palsu dari berbagai universitas ternama di Jawa Timur, seperti Universitas Dr Soetomo (Unitomo), Universitas Merdeka (Unmer) Malang, dan Universitas Darul Ulum (Undar) Jombang.

Selain lembar ijazah palsu yang masih kosong, polisi juga menyita hologram logo beberapa kampus, seperangkat komputer, stempel, delapan bendel skripsi, toga, ijazah palsu yang telah jadi dan uang Rp7 juta. Sekilas, ijazah buatan Sucipto ini memang sempurna dan nyaris tak terlihat kejanggalannya.

Hologram, huruf timbul ciri khas universitas juga ada. Nilai yang diberikan Sucipto pun tak menyolok. “Rata-rata nilainya sangat memuaskan alias di atas tiga koma .Jika ijazah ini dilaminating, orang yang membacanya langsung berkesimpulan bahwa ijazah ini asli,” imbuh Hilman.

Polisi menduga, dari bisnis ilegal yang berlangsung sejak 2007 lalu itu, komplotan Sucipto telah mengeruk keuntungan ratusan bahkan miliaran rupiah. Menurut Hilman, tarif yang dipatok Sucipto relatif mahal, yaitu yaitu Rp12 juta untuk ijazah S-1, Rp30 juta ijazah untuk S-2, dan Rp70 juta untuk ijazah S-3. “Ya memang bergantung negosiasi atau tawar menawar juga,” tutur Hilman.

Sucipto dijerat Pasal 67 ayat (1) dan Pasal 68 ayat (1) Undang-Undang (UU) No 20/2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional dengan ancaman pidana penjara maskimal 10 tahun dan denda paling banyak Rp1 miliar. Kasubid Ekonomi AKBP Jousep Gunawan menjelaskan, Hilman merupakan mantan dosen di Universitas Dr Soetomo, Jalan Semolowaru Surabaya. Namun sudah lama dia tidak aktif dalam kegiatan perkuliahan. “Kasus ini masih kami kembangkan untuk mencari keterlibatan pihak-pihak lain,” kata Jousep.

Rektor Unitomo Ulul Albab membenarkan Sucipto adalah bekas dosen pengajar di kampusnya. “Iya beliau memang pernah mengajar di Unitomo pada 1988, tetapi pindah ke Universitas 17 Agustus sekitar 1990- an. Saya belum mengerti juga alasan keluarnya karena kejadiannya kan sudah lama,” ujar Ulul.

Rabu, 04 Juli 2012

Resensi Novel ayat-ayat cinta





Judul : Ayat-Ayat Cinta
Pengarang : Habiburrahman El-Shirazy
Tebal Buku : 411 halaman
Diresensi oleh : Shelvi Novianita
SINOPSIS
“Mencintai-Nya Menuntunku Pada Cintamu”
Fahri bin Abdillah adalah pelajar Indonesia yang berusaha menggapai gelar masternya di Al Ahzar. Berteman dengan panas dan debu Mesir. Berkutat dengan berbagai macam target dan kesederhanaan hidup. Bertahan dengan menjadi penerjemah buku-buku agama. Belajar di Mesir, membuat Fahri dapat mengenal Maria, Nurul, Noura, dan Aisha.
Maria Grigis adalah tetangga satu flat Fahri, yang beragama Kristen Koptik tapi mengagumi Al Quran. Dan menganggumi Fahri. Kekaguman yang berubah menjadi cinta. Sayangnya, cinta Maria hanya tercurah dalam diary saja.
Sementara Nurul adalah anak seorang kyai terkenal, yang juga mengeruk ilmu di Al Azhar. Sebenarnya Fahri menaruh hati pada gadis manis ini. Sayang rasa mindernya yang hanya anak keturunan petani membuatnya tidak pernah menunjukkan rasa apa pun pada Nurul. Sementara Nurul pun menjadi ragu dan selalu menebak-nebak.
Sedangkan Noura adalah tetangga Fahri, yang selalu disika Ayahnya sendiri. Fahri berempati penuh dengan Noura dan ingin menolongnya. Hanya empati saja. Tidak lebih! Namun Noura yang mengharap lebih. Dan nantinya ini menjadi masalah besar ketika Noura menuduh Fahri memperkosanya.
Dan yang terakhir adalah Aisha. Si mata indah yang menyihir Fahri. Sejak sebuah kejadian di metro, saat Fahri membela Islam dari tuduhan kolot dan kaku, Aisha jatuh cinta pada Fahri. Dan Fahri juga tidak bisa membohongi hatinya.
Lantas, siapakah yang nantinya akan dipilih Fahri? Siapakan yang akan dipersunting oleh Fahri? Siapakah yang dapat mencintai Fahri dengan tulus? Mari kita cari jawabannya dari sinopsis “Ayat-Ayat Cinta” berikut.
Fahri sedang dalam perjalanan menuju Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq yang terletak di Shubra El-Kaima, ujung utara kota Cairo, untuk talaqqi (belajar secara face to face pada seorang syaikh) pada Syaikh Utsman, seorang syaikh yang cukup tersohor di Mesir.
Dengan menaiki metro, Fahri berharap ia akan sampai tepat waktu di Masjid Abu Bakar As-Shiddiq. Di metro itulah ia bertemu dengan Aisha. Aisha yang saat itu dicacimaki dan diumpat oleh orang-orang Mesir karena memberikan tempat duduknya pada seorang nenek berkewarganegaraan Amerika, ditolong oleh Fahri. Pertolongan tulus Fahri memberikan kesan yang berarti pada Aisha. Mereka pun berkenalan. Dan ternyata Aisha bukanlah gadis Mesir, melainkan gadis Jerman yang juga tengah menuntut ilmu di mesir.
Di Mesir Fahri tinggal bersama dengan keempat orang temannya yang juga berasal drai Indonesia. Mereka adalah Siful, Rudi, Hamdi, dan Misbah. Mereka tinggal di sebuah apartemen sederhana yang mempunyai dua lantai, dimana lantai dasar menjadi temapt tinggal Fahri dan empat temannya, sedangkan yang lanai atas ditemapati oleh keluarga Kristen Koptik yang sekaligus menjadi tetangga mereka. Keluarga ini terdiri dari Tuan Boutros, Madame Nahed dan dua oranga nak mereka, taitu Maria dan Yousef.
Walau keyakinan dan aqiqah mereka berbeda, tapi antara keluarga Fahri dan Tuan Boutros terjalin hubungan yang sangat baik. Terlebih Fahri dan Maria berteman begitu akarab. Fahri menyebut Maria sebagai gadis koptik yang aneh. Bagaimana tidak, Maria mampu menghafal surat Al-Maidah dan surat Maryam.
Selain bertetangga dengan keluarga Tuan Boutros, Fahri juga mempunyai tetangga lain berkulit hitam yang perrangainya berbanding seratusdelapan puluh derajat dengan keluarga Boutros. Kepala keluarga ini bernama Bahadur. Istrinya bernama madame Syaima dan anak-anaknya bernama Mona, Suzanna, dan Noura.
Bahadur, madame Syaima, Mona, dan Suzanna sering menyiksa noura karena rupa serta warna rambut Noura yang berbeda dengan mereka. Noura berkulit putih dan berambut pirang. Ya, nasib Noura memang malang.
Suatu malam Noura diusir Bahadur dari rumah. Noura diseret ke jalan sembari dicambuk. Tangisannya memilukan. Fahri tidak tega melihat Noura diperlakukan demikian oleh Bahadur. Ia meminta Maria melalui sms untuk menolong Noura. Fahri tidak bisa menolong Noura secara langsung karena Noura bukan muhrimnya. Maria pun bersedia menolong Noura malam itu. Ia membawa Noura ke flatnya.
Fahri dan Maria berusaha mencari tahu siapa keluarga Noura sebenarnya. Mereka yakin Noura bukanlah anak Bahadur dan madame Syaima.
Dan benar. Noura bukan anak mereka. Noura yang malang itu akhirnya bisa berkumpul bersama orang-orang yang menyayanginya. Ia sangat berterima kasih pada Fahri dan Maria.
Sementara itu, Aisha tidak dapat melupakan pemuda yang baik hati mau menolongnya di metro saat itu. Aisha rupanya jatuh hati pada Fahri. Ia meminta pamannya Eqbal untuk menjodohkannya dengan Fahri. Kebetulan, paman Eqbal mengenal Fahri dan Syaik Utsman. Melalui bantuan Syaik Utsman, Fahri pun bersedia untuk menikah dengan Aisha.
Mendengar kabar pernikahan Fahri, Nurul menjadi sangat kecewa. Paman dan bibinya sempat datang ke rumah Fahri untuk memberitahu bahwa keponakannya sangat mencitai Fahri. Namun terlambat! Fahri akan segera menikah dengan Aisha. Oh, malang benar nasib Nurul.
Dan pernikahan Fahri dengan Aisha pun berlangsung. Fahri dan Aisha memutuskan untuk berbulanmadu di sebuah apartemen cantik selama beberapa minggu.
Sepulang dari ‘bulanmadu’nya, Fahri mendapat kejutan dari Maria dan Yousef. Maria dan adiknya itu datang ke rumah Fahri untuk memberikan sebuah kado pernikahan. Namun Maria tampak lebih kurus dan murung. Memang, saat Fahri dan Aisha menikah, keluarga Boutros sedang pergi berlibur. Alhasil, begitu mendengar Fahri telah menjadi milik wanita lain dan tidak lagi tinggal di flat, Maria sangat terpukul.
Kebahagian Fahri dan Aisha tidak bertahan lama karena Fahri harus menjalani hukuman di penjara atas tuduhan pemerkosaan terhadap Noura. Noura teramat terluka saat Fahri memutuskan untuk menikah dengan Aisha.
Di persidangan, Noura yang tengah hamil itu memberikan kesaksian bahwa janin yang dikandungnya adalah anak Fahri. Pengacara Fahri tidak dapat berbuat apa-apa karena ia belum memiliki bukti yang kuat untuk membebaskan kliennya dari segala tuduhan. Fahri pun harus mendekam di bui selama beberapa minggu.
Satu-satunya saksi kunci yang dapat meloloskan Fahri dari fitnah kejam Noura adalah Maria. Marialah yang bersama Noura malam itu (malam yang Noura sebut dalam persidangan sebagai malam dimana Fahri memperkosanya).
Tapi Maria sedang terkulai lemah tak berdaya. Luka hati karena cinta yang bertepuk sebelah tangan membuatnya jatuh sakit. Tidak ada jalan lain. Atas desakan Aisha, Fahri pun menikahi Maria. Aisha berharap, dengan mendengar suara dan merasakan sentuhan tangan Fahri, Maria tersadar dari koma panjangnya. Dan harapan Aisha menjadi kenyataan. Maria dapat membuka matanya dan kemudian bersedia untuk memberikan kesaksian di persidangan. Alhasil, Fahri pun terbebas dari tuduhan Noura. Dengan kata lain, Fahri dapat meninggalkan penjara yang mengerikan itu.
Noura menyesal atas perbuatan yang dilakukannya. Dengan jiwa besar, Fahri memaafkan Noura. Dan, terungkaplah bahawa ayah dari bayi dalam kandungan Noura dalah Bahadur.
Fahri, Aisha, dan Maria mampu menjalani rumah tangga mereka dengan baik. Aisha menganggap Maria sebagai adiknya, demikian pula Maria yang menghormati Aisha selayaknya seorang kakak. Tidak ada yang menduga jika maut akhirnya merenggut Maria. Namun Maria beruntung karena sebelum ajal menjemputnya, ia telah menjadi seorang mu’alaf.
Dari buku kita tahu bahwa Fahri selalu “menjaga diri” di tengah wanita-wanita yang dekat dengannya. Hal itu Fahri lakukan karena rasa cintanya pada Yang Maha Kuasa. Fahri berusaha konsisten dengan prinsip, dan ajaran agama yang ia pegang teguh. Cinta Fahri pada agama dan Sang Khalik menuntunnya pada cinta Aisha. Atas izin Allah Fahri dan Aisha bersatu di bawah payung cinta yang tulus mengharapkan ridhaNya.

Rabu, 25 April 2012


MENGANALISIS JURNAL TENTANG
 “ANALISIS KINERJA KEUANGAN DAN KORELASINYA DENGAN HARGA SAHAM”

Ø  Berdasarkan Abstraknya,Jurnal tersebut kurang baik,karna tidak memuat hasil dari penelitiannya,hanya memuat tujuan dan metode  saja.
Ø  Berdasarkan Pendahuluan,sudah cukup baik memuat latar belakang penelitian secara ringkas,padat dan tujuan.
Ø  Berdasarkan Tinjauan pustaka atau Landasan Teori,kurang baik,karna hanya memuat teori yang mendukung dan berhubungan langsung dengan topic penelitian saja tetapi tidak memuat kajian sejenis tentang penelitian tersebut.
Ø   Berdasarkan Metode penelitian,metode penelitian yang digunakan penulis jurnal sudah memenuhi standar penulisan.
Ø  Berdasarkan hasil dan pembahasan,hasil dan pembahasan yang ditulis sangat baik,dengan menyertakan data beserta hasil perhitungan yang didapat,secara ringkas,padat,sesuai dengan rumusan masalah yang ada.
Ø  Berdasarkan kesimpulan,penulisan kesimpulan sudah baik,karena didalam kesimpulan,penulis menjelaskan tahap-tahap yang memiliki hubungan satu sama lain dan menjawab dari tujuan penelitian tersebut.
Ø  Berdasarkan saran,Penulisan saran di jurnal ini kurang baik,karena penulis tidak menyertakan saran akan penelitian lanjutan yang masih harus dilakukan.
Ø  Berdasarkan Daftar pustaka, sudah cukup baik karena,referensinya lengkap tertulis dan mengikuti sistematika syarat penulisan daftar pustaka dengan benar.

Senin, 19 Maret 2012

Paragraf Induktif

     Selain beragam Islam,berakal, ada juga yang disebut Mummayyiz ( bisa membedakan antara yang suci dan najis) setelah itu lalu kita membaca Niat dalam hati, mempertahankan niat tersebut , artinya tidak bermaksud memotong niat tersebut sampai dia selesai berwudhu,airnya suci dan boleh dipakai.Semua ini adalah sebagian dari syarat-syarat berwudhu.
    
     Apabila kita sudah mempunyai air wudhu bererti kita sudah siap untuk mengerjakan solat. Kita boleh solat dimana saja asalkan di tempat suci. Suci disini maksudnya adalah tidak bernajis. Boleh menggunakan alas seperti sajadah atau apa saja yang bersih, sekalipun tidak memakai alas sama sekali, seperti di atas bumi. Meskipun demikian, yang penting dipersiapkan sebagai persyaratan shalat ialah:
  1. Menutup aurat bagi lelaki iaitu antara pusat dengan lutut. Aurat wanita, seluruh badan, kecuali muka dan telapak tangan. Menutup aurat boleh dengan apa saja asal suci, tidak tembus pandang seperti plastik bening atau benda semacam lainnya.
  2. Menghadap ke arah kiblat, yaitu Ka'bah di Makkah. Bila tidak memungkinkan, misalnya di atas kereta api, kapalterbang atau tak diketahui sama sekali, maka hadapkanlah wajah kita ke mana saja yang kita merasa condong bahawa itu adalah kiblat.
  3. Harus mengetahui dengan yakin sudah berada dalam waktu solat yang hendak dikerjakan.
  4. Yakin bahawa badan, pakaian, dan tempat solat suci dari najis.
  5. Suci dari hadas besar dan hadas kecil.
dan ini adalah sebagian dari syarat sahnya sholat.

Paragraf Deduktif

     Menjelang kenaikan BBM semua masyarakat Indonesia mulai resah. Pak Dedi yang pekerjaan sehari-harinya sebagai tukang ojek mulai merasa resah tentang berita yang akan dinaikannya BBM, dia juga merasa bingung akan tindakan yang akan dia ambil, jika BBM bulan depan naik maka tarif ojek pun akan naik, jika tarif ojek naik,maka semakin sedikit orang yang mau naik ojek, karena orang-orang lebih memilih naik angkot ketimbang naik ojek.Tetapi jika tarif  ojek tidak di naikan,Pak Dedi pun makin kesulitan.Begitu juga di ikuti dengan isu akan menaiknya harga sembako yang diakibatkan oleh mahalnya biaya distribusi akibat kenaikan BBM.
     Kenaikan BBM juga membuat semakin besarnya inflasi.Bank Indonesia (BI) belum memastikan tambahan inflasi bila pemerintah menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi pada awal April 2012. Namun BI masih memerkirakan besaran inflasi di kisaran 4,5 persen.
Gubernur BI, Darmin Nasution, mengatakan bank sentral memiliki penghitungan kenaikan laju inflasi. Penghitungan dilakukan bila pemerintah menaikkan harga BBM bersubsidi antara Rp1.500 hingga Rp2.000 per liter. Tapi penghitungan itu dipastikan setelah DPR menyetujui keputusan tersebut.(RRN)

Jumat, 30 Desember 2011

An Empirical Study of Consumer Impulse Buying Behavior in Local Markets


                                                                         Muhammad Ali Tirmizi
                         PH.D Candidate, FUIEMS, Foundation University, Islamabad, Pakistan
                                                               E-mail: m5alitahir@gmail.com
                                                                         Kashif-Ur-Rehman
                                        Associate Professor, Iqra University, Islamabad, Pakistan
                                                        E-mail: dr.kashifurrehman@gmail.com
                                                                                 M. Iqbal Saif
                             Head of the Department, Management Sciences, FUIEMS, Foundation         
                                                                University, Islamabad, Pakistan
                                                                  E-mail: drmisaif@gmail.com




Abstrak
Tulisan ini meneliti hubungan antara variabel independen yang
belanja gaya hidup konsumen, fashion keterlibatan konsumen, pra-keputusan panggung dan
pasca-keputusan tahap perilaku pembelian konsumen dengan sikap dan perilaku
aspek perilaku impuls membeli. Studi ini mencoba untuk mengeksplorasi hubungan ada
antara variabel-variabel yang terlibat, dengan menekan respon dari 165 responden dari yang lebih tinggi
kelompok pendapatan di daerah Rawalpindi dan Islamabad. Temuan utama dari studi ini
menunjukkan hubungan yang lemah keseluruhan dari himpunan variabel independen dengan
variabel dependen tetapi, analisis mendalam menemukan bahwa pra-tahap keputusan konsumen
perilaku pembelian adalah satu-satunya variabel yang mengakibatkan ke hubungan yang kuat dengan dorongan
perilaku pembelian. Memang benar bahwa orang-orang muda lebih sering mendapatkan tertarik dengan produk yang ditampilkan
di rak-rak toko dan memiliki kecenderungan yang lebih besar perilaku impuls membeli, tetapi hasil ini
kertas tidak menunjukkan adanya hubungan membeli impuls dalam kelompok pendapatan yang lebih tinggi dari orang muda
memiliki kecenderungan impuls membeli lazim. Penelitian ini melaporkan bukti baru di lapangan
perilaku membeli impuls konsumen yang berkaitan dengan pasar lokal kota kembar
Pakistan.
Kata kunci:
Belanja gaya hidup, fashion keterlibatan, pra-keputusan panggung, pasca-keputusan
panggung, Impulse perilaku pembelian, Pakistan.
1. Pengantar
Toko adalah tempat di mana pembeli membeli produk apakah itu direncanakan atau tidak direncanakan pembelian. Ini
toko menjual ratusan dan ribuan produk sehari-hari dan konsumen mengkonsumsi produk-produk di
biaya dari pendapatan mereka. Ini hanya tanggungan atas penghasilan dari orang, bahwa berapa banyak dan berapa banyak
kali dia mengunjungi toko belanja untuk membeli produk. Hal ini biasanya terlihat bahwa pembeli membeli produk
yang mereka tidak direncanakan dan fenomena pembelian yang tidak direncanakan disebut sebagai impuls

Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 523
membeli. Dalam penelitian sebelumnya, peneliti dan sarjana telah mencoba untuk mengukur pembelian impuls
berbagai jenis produk di toko-toko belanja beberapa seperti yang dilaporkan oleh Bellenger et al. (1978); Du
Pont (1965); Kollat ​​dan Willet (1967), Prasad (1975); Williams dan Dardis (1972).
Di Pakistan ada empat jenis indeks harga; Indeks Harga Konsumen (IHK), partai besar Harga
Index (WPI), Indeks Harga Sensitif (SPI) dan Deflator PDB, yang digunakan untuk menghitung inflasi.
Di antara indikator ini, penekanan utama adalah pada IHK sebagai ukuran inflasi, yang meliputi 375
item di 71 pasar dari 35 kota-kota negara (Survei Ekonomi, 2006-07). CPI nilai rata-rata di
periode (1990-1900) adalah 9,71 dan itu 5,8 dalam (2000-07). Hal ini juga terlihat bahwa tingkat inflasi di
kelompok penghasilan terendah adalah 8.3 dengan penghasilan mulai dari bawah 3.000 sampai 5.000 Rupee sebagai
dibandingkan dengan laju inflasi sebesar 7,3 dalam kurung pendapatan atas memiliki pendapatan lebih dari 12.000
Rupee. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan dengan keyakinan bahwa kapasitas pembelian rumah tangga berbaring di atas
pendapatan braket di Pakistan telah meningkat dibandingkan dengan kelompok berpenghasilan rendah. Berikut adalah penting untuk
kutipan saham persentase dari kelompok berpenghasilan disebutkan di atas. Kelompok pendapatan 20% lebih rendah pada
Pakistan memegang 9,65 persen pangsa total pendapatan dan 20% dari kelompok penghasilan tertinggi di
Pakistan memegang 41,72% dari pangsa total pendapatan dimana sisanya pergi ke kelompok menengah penghasilan yang
48,63% yang terdiri dari 60% dari total pendapatan kelompok (Federal Bureau of Statistics, 2004-05).
Angka-angka ini dikutip di sini untuk membangun sebuah kerangka di mana kita lebih memperluas studi ini. Sekarang,
angka yang disajikan sebelumnya menunjukkan bahwa ada kecenderungan untuk membeli impuls pendapatan yang lebih tinggi
kelompok di Pakistan sebagai tingkat penghasilan mereka jelas menunjukkan tren ini.Dalam studi ini lebih dari 80 persen
dari responden (lihat lampiran) yang terkait dengan pendapatan yang lebih tinggi braket punya penghasilan lebih besar dari
12.000 Rupee per bulan. Peningkatan pakai pendapatan serta ketersediaan kredit telah mengakibatkan
peningkatan impuls membeli kebiasaan di kalangan konsumen di lingkungan ritel seperti yang dilaporkan oleh Dittmar dan
Drury (2000). Dalam rangka untuk menekan perilaku untuk membeli impuls di konsumen, kita memiliki area yang dipilih
Rawalpindi dan Islamabad untuk memulai penelitian kami. Kami berniat untuk menyelidiki bahwa apakah
tinggi pendapatan kelompok yang memiliki pendapatan yang lebih besar dari 12.000 Rupee telah membeli terencana atau tidak
perilaku.
Pertanyaan-pertanyaan dasar yang kita ingin menyelidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Q1: Apakah tingkat hubungan antara gaya hidup dan belanja impuls perilaku pembelian
konsumen kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki disposable income, belanja di daerah
Rawalpindi dan Islamabad?
Q2: Apa adalah tingkat hubungan antara keterlibatan fashion dan perilaku impuls membeli
konsumen kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki disposable income, belanja di daerah
Rawalpindi dan Islamabad?
Q3: Apakah tingkat hubungan antara pra-keputusan tentang tahap pembelian dan
impuls perilaku pembelian konsumen dari kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki disposable income,
belanja di daerah Rawalpindi dan Islamabad?
Q4: Apa adalah tingkat hubungan antara pasca-keputusan tentang tahap pembelian dan
impuls perilaku pembelian konsumen dari kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki disposable income,
belanja di daerah Rawalpindi dan Islamabad?
2. Alasan Studi
Hal ini terlihat bahwa belanja pemilik mal berusaha untuk mengeksploitasi impuls, yang berhubungan dengan kebutuhan dasar
untuk kepuasan instan. Seorang pembeli di toko belanja mungkin tidak bisa berbelanja khusus untuk
barang seperti gula, permen, coklat gusi gelembung,, permen dan biskuit. Namun, terkait
item berbentuk ditampilkan di tempat yang menonjol tentu akan menarik perhatian pembeli dan memicu
impuls membeli perilaku di dalamnya. Fenomena ini dengan mudah dapat dipahami dengan bantuan dua
prinsip / pasukan sebagai bagian dari review literatur psikologis, yang menafsirkan impuls sebagai
konsekuensi dari prinsip-prinsip ini bersaing / kekuatan. Prinsip-prinsip ini juga disajikan dalam makalah
Freud (1956) dan Mai, et al. (2002). Prinsip-prinsip yang tercantum di bawah:

524 Muhammad Ali Tirmizi, Kashif-ur-Rehman dan M. Iqbal Saif
a. Pertama, prinsip kesenangan
b. Kedua, prinsip realitas
Prinsip kesenangan adalah yang berhubungan dengan kepuasan langsung dirasakan oleh konsumen, sedangkan realitas
Prinsip ini terkait dengan menunda kepuasan. Selalu ada sebuah kompetisi yang sedang berlangsung antara kedua
kekuatan direpresentasikan sebagai prinsip dalam pembeli ketika mereka memasuki sebuah toko belanja dengan maksud untuk
membeli. Sebagai impuls konsekuensi perilaku yang terkait mengatasi mereka karena impuls biasanya sulit
untuk melawan dan melibatkan direncanakan pengalaman yang menyenangkan, sebagai studi tentang Rook (1987).
Dalam makalah ini kami tertarik untuk menemukan asosiasi antar variabel (melihat model Penelitian dan
model sub) tentang pengeluaran orang kelompok pendapatan atas terlepas dari keterkaitan variabel-variabel
pola impuls membeli yang berbeda terkait dengan kelompok diversifikasi pembeli.
Tulisan ini tentu akan menambah nilai basis pengetahuan yang ada dan secara bersamaan memberikan kita
keberanian untuk memanjakan diri dalam memajukan lebih lanjut penelitian dalam bidang ilmu manajemen. Studi ini juga
berguna untuk pengecer dan produsen yang ingin meningkatkan pemahaman mereka mengenai konsumen
perilaku pembelian impulsif.
3. Tujuan Studi
Tujuan dari penelitian adalah untuk menguji hubungan variabel independen yang adalah;
belanja gaya hidup, keterlibatan busana, pra-keputusan tahap, tahap pasca-keputusan konsumen mengenai
pembelian dengan variabel dependen yaitu; impuls perilaku pembelian konsumen yang berbelanja di
wilayah Rawalpindi dan Islamabad.
4. Tinjauan Literatur
Pemasaran dan peneliti konsumen selama periode empat puluh tahun telah mencoba untuk memahami konsep
impuls membeli dan didefinisikan terminologi ini dalam perspektif mereka sendiri, yang beberapa penelitian
Temuan ini dibahas di sini.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Cobb dan Hoyer (1986), membeli impuls didefinisikan sebagai
pembelian tidak terencana dan definisi ini juga dapat ditemukan dalam penelitian Kollat ​​dan Willet (1967).
Dalam penelitian lain oleh Rook (1987) melaporkan bahwa membeli impuls biasanya terjadi, ketika konsumen
terasa motivasi kuat yang berubah menjadi keinginan untuk membeli komoditi langsung.Beatty dan
Ferrell (1998) didefinisikan sebagai pembelian membeli impuls sesaat sebelumnya tidak memiliki tujuan atau tujuan
untuk membeli komoditas. Stern (1962) menemukan bahwa produk yang dibeli pada impuls biasanya murah.
Belanja gaya hidup didefinisikan sebagai perilaku yang ditunjukkan oleh pembeli sehubungan dengan serangkaian
tanggapan pribadi dan pendapat tentang pembelian produk seperti yang dilaporkan oleh Cobb dan Hoyer (1986).
Mereka menemukan bahwa belanja gaya hidup dan perilaku membeli impuls berkaitan erat tetapi hanya dalam kasus ini
pembeli impuls. Penelitian ini juga menyatakan bahwa pembeli impuls jatuh di tengah sebagai dari
alat pengukuran yang digunakan oleh para peneliti, menunjukkan bahwa pembeli tidak akan memilih merek yang pertama kali mereka
terlihat di pusat perbelanjaan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Cha (2001); Han et al, (1991);. Ko (1993) itu dilaporkan impuls yang
perilaku pembelian tentang produk-produk fashion yang berhubungan dengan pola seperti murni, emosi diulang
serta perilaku berorientasi fashion impuls membeli. Fakta ini juga dikutip oleh Park et al.
(2006). Definisi keterlibatan mode pada dasarnya berhubungan dengan pakaian modis yang terkait dengan
pakaian. Temuan Han et al. (1991) dikutip dalam menanggapi keterlibatan fashion konsumen, yang
mungkin meningkatkan fashion berorientasi impuls membeli perilaku di antara mereka yang mengenakan busana biasa
pakaian. Fairhurst et al. (1989) dan Seo et al. (2001) menemukan hubungan langsung antara mode
Keterlibatan dan membeli pakaian. Emosi positif didefinisikan sebagai mempengaruhi dan suasana hati, yang
menentukan intensitas pengambilan keputusan-konsumen dilaporkan oleh Watson dan Tellegen (1985). Taman
(2006) menemukan hubungan positif dari emosi positif, keterlibatan mode dan fashion yang berorientasi
impuls membeli dengan perilaku membeli impuls keseluruhan konsumen. Ko (1993) melaporkan bahwa

Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 525
emosi positif dapat mengakibatkan ke dalam pembelian busana impuls terkait. Para penelitian dari Beatty dan
Ferrell (1998); Husman (2000); Rook dan Gardner (1993); Youn dan Faber, (2000) menemukan bahwa
emosi sangat mempengaruhi perilaku membeli, yang hasilnya untuk membeli konsumen impuls. Babin dan
Babin (2001) menemukan bahwa di toko niat beli konsumen dan belanja sebagian besar dapat
dipengaruhi oleh emosi. Emosi-emosi ini mungkin khusus untuk hal-hal tertentu misalnya, fitur
item, kepentingan pelanggan diri, mengukur konsumen mengevaluasi item dan pentingnya mereka berikan kepada
mereka membeli di toko.
Piron (1993) menemukan bahwa total sembilan item, kombinasi keputusan pra-dan pasca-keputusan
tahapan indikator, menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam tinggi dan nilai korelasi untuk tidak direncanakan
pembelian dilakukan oleh konsumen mengakibatkan menjadi nilai lebih tinggi dibandingkan dengan pembelian dilakukan oleh konsumen
pada dorongan. Studi mereka menunjukkan bahwa dari keseluruhan kuesioner yang didistribusikan 361, 53 adalah
pembeli yang tidak direncanakan dan 145 adalah pembeli impuls (total = 198).
4.1. Model Penelitian
Belanja gaya hidup co nsumer
a = 0,42
a = 0. 710
Fashio n keterlibatan
a = 0,451
Sikap dan
co nsumer
Perilaku asp dll of
Impulse Bu ying
Kecenderungan dan
a = 0,653
Pra-keputusan tahap
Frekuensi
konsumen tentang membeli
consu mer
produk
a = 0,552
Pasca-decisio n tahap o f
konsumen tentang membeli
produk
Simbol dan maknanya dari model matematika
Simbol
Arti
yang Konstan
e Model kesalahan
c Konsumen
t Membeli pada waktu tertentu
Impulse Konstan ImpBB membeli Perilaku
IV-1 Shoplif Belanja gaya hidup
IV-2 Fashinv Mode keterlibatan
IV-3 Predec Pra-keputusan tahap
IV-4 Posdec Pasca keputusan tahap
4.2. Hipotesa
Hipotesis dirumuskan setelah meninjau literatur diberikan di bawah ini:
H1:
Belanja gaya hidup konsumen memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku pembelian impuls
dari konsumen.
H2:
Mode keterlibatan konsumen memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku pembelian impuls
dari konsumen.
H3:
Pra-tahap keputusan konsumen untuk membeli produk berniat memiliki hubungan yang kuat dengan
impuls perilaku pembelian konsumen.
H4:
pasca-keputusan tahap konsumen yang telah membeli produk ini juga memiliki hubungan yang kuat dengan
pembelian impuls perilaku konsumen.
Pengujian hipotesis adalah terbatas pada data primer yang dikumpulkan dari daerah
Islamabad dan Rawalpindi (kota kembar).
5. Metodologi
5.1. Sampel
Konsumen, yang berbelanja di toko-toko umum, toko-toko, butik, pusat perbelanjaan, kecil
gerai ritel, dll, di daerah Islamabad dan Rawalpindi diambil sebagai populasi untuk penelitian ini.
Sebuah sampel yang nyaman (non-probabilitas metode sampling) dari 165 konsumen yang dikumpulkan up untuk
saat ini studi di mana responden dari penelitian ini diminta untuk menyelesaikan kuesioner pada
dasar sukarela dan tidak usaha tunggal dilakukan untuk mengejar non-responden. Di antara responden,
74,1% terkait dengan kelompok pendapatan lebih dari 20.000 Rupee, 26,1% terkait dengan pendapatan
kelompok kurang dari 20.000 Rupee, 47,9% adalah laki-laki dan 52,1% adalah perempuan, 77% adalah antara
umur (20-29), 3% adalah antara usia (50-59), 80% belum menikah dan 18,2% sudah menikah,
53,3% adalah memiliki gelar master dan 33,3% adalah memiliki gelar sarjana (lihat lampiran).
5.2. Instrumentasi
Instrumen berisi sub-bagian. Sub-bagian dari instrumen yang diambil dari berbagai
penelitian sebelumnya. Aspek perilaku membeli impuls di mana barang disusun untuk mengukur
kecenderungan impuls membeli diadopsi dari kertas Rook dan Fisher (1995) dan kemudian lebih lanjut
dimodifikasi. Padahal, aspek sikap untuk membeli impuls di mana item disusun untuk mengukur
frekuensi diadopsi dari kertas Kacen dan Lee (2002) dan kemudian dimodifikasi lebih lanjut. Skala ini
juga dapat ditemukan dalam studi Mai dkk. (2002). Bagian sub-kuesioner tentang
gaya hidup konsumen yang diadopsi dari kertas Cobb dan Hoyer (1986), dimana item yang diukur
5-titik pada skala Likert mulai dari (1 = pasti tidak setuju, 5 = pasti setuju). Bagian-sub
kuesioner tentang keterlibatan mode diadopsi dari kertas Park et al. (2006), di mana
item diukur pada 7-poin skala Likert mulai dari (1 = sangat tidak setuju, 7 = sangat setuju).Para

Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 527
sub-bagian dari kuesioner tentang tahap pra-dan pasca-keputusan keputusan pembelian konsumen
diadopsi dari kertas Piron (1993), di mana item diukur pada 5-titik skala Likert mulai
dari (1 = pasti tidak setuju, 5 = pasti setuju). Setelah mengumpulkan 100 tanggapan keandalan
instrumen diperiksa dengan bantuan Paket Statistik untuk Ilmu Sosial. Nilai
Alpha Cronbach adalah 0,710, yang dikonfirmasi keandalan instrumen dan kemudian lebih lanjut
tanggapan sampai dengan 165 dikumpulkan. Instrumen ini pada dasarnya terdiri dari empat bagian yang
pertanyaan didistribusikan tentang, gaya hidup konsumen, keterlibatan fashion, pra-keputusan panggung dan
pasca-keputusan pembelian konsumen tahap.
5.3. Prosedur
Data yang dikumpulkan adalah dengan cara berkembang dengan baik, skala diadopsi memiliki empat bagian. Instrumen ini
selanjutnya diubah sesuai dengan kebutuhan dari penelitian ini. Semua kuesioner yang
didistribusikan di antara responden di wilayah Rawalpindi dan Islamabad pribadi oleh
peneliti. Total 200 kuesioner didistribusikan, tapi 165 kuesioner kembali. Jadi,
kuesioner tingkat pemulihan setara dengan 82 persen. Data dikumpulkan dalam jangka waktu 20 hari
dan kemudian respon yang diumpankan ke Paket Statistik untuk Ilmu Sosial (SPSS) versi 15 untuk
analisis dan evaluasi. Analisis regresi berganda digunakan sebagai uji statistik untuk menentukan
derajat hubungan antara variabel yang terlibat dalam studi ini (Mai dkk., 2002).
6. Hasil dan Diskusi
6.1. Hasil
Data yang disajikan dalam tabel 2, menunjukkan hasil diekstraksi berdasarkan regresi berganda untuk menemukan
hubungan tingkat antara variabel independen dan variabel dependen.

Modifikasi atas model matematis menunjukkan bahwa hipotesis 1, 2 dan 4
ditolak berdasarkan hubungan yang lemah mereka di antara variabel yang terlibat (p> 0,05). Hipotesis 3 hanya
diterima berdasarkan asosiasi yang kuat antara variabel-variabel yang terlibat (p <0,05).
Tabel 2:
(Koefisien Beta, kesalahan standar dalam tanda kurung, t-Nilai dalam kurung dan P-Nilai-nilai dalam huruf miring)
Konstan IV-1 IV-2 IV-3 IV-4 R Square F-Statistik
1,328 .123 .076 .279 .125 .302 17,324
(0,340) (0,093) (0,041) (0,060) (0,084)
[3,908] [1,320] [1,837] [4,618] [1,494]
.000 .189 .068 .000 .137 .000
Hasil Hipotesis
H1 H2 H3 H4
Pengujian
Ditolak Ditolak Diterima Ditolak - -
Legenda:
Konstan: sikap dan perilaku aspek Tendensi Impulse Pembelian dan Frekuensi konsumen
IV-1: Belanja gaya hidup konsumen
IV-2: Mode keterlibatan konsumen
IV-3: Pra-tahap keputusan konsumen mengenai produk membeli
IV-4: Pasca-keputusan tahap produk konsumen tentang membeli
Hasil menunjukkan bahwa variabel independen dari pra-tahap keputusan konsumen tentang
membeli produk variasi akun dalam variabel dependen dengan t-nilai [4,618] yang signifikan pada
(P <0,05), dimana variabel sebagai independen; belanja gaya hidup konsumen, keterlibatan busana dari
konsumen dan pasca-tahap keputusan konsumen mengenai produk membeli akun tidak ada variasi dalam

528 Muhammad Ali Tirmizi, Kashif-ur-Rehman dan M. Iqbal Saif
variabel dependen dengan t-nilai yang tidak signifikan pada (p> 0,05). Kami menemukan bahwa ada
positif yang signifikan dampak dari variabel-variabel independen pada variabel dependen (F = 17,324) (p <
0,05). Nilai Beta untuk semua variabel independen menunjukkan hubungan yang positif dalam model
koefisien. Nilai (R-Square = 0,302) dan (R = 0,550) memprediksi hubungan yang moderat
antara set variabel independen dan variabel dependen dengan mengurangi kesalahan
prediksi oleh 30,2 persen.
6.2. Diskusi
Hubungan positif dari keterlibatan fashion dengan perilaku pembelian konsumen impuls adalah
dilaporkan oleh Park (2006). Dimana, dalam penelitian kami, statistik menunjukkan hubungan negatif antara
mode keterlibatan dan aspek sikap dan perilaku membeli impuls. Di sini, menurut
interpretasi statistik keterlibatan busana hasil tidak dapat diambil sebagai impuls membeli karena
konsumen memiliki kepentingan fashion, jika ini terjadi, biasanya membeli produk bermerek berkualitas tinggi dan
gaya dan ingin membeli pakaian fashion dari toko-toko tertentu atau butik mereka.
Studi tentang Coob dan Hoyer (1986) melaporkan hubungan yang kuat antara gaya hidup belanja
dan impuls perilaku pembelian. Tapi, gaya hidup belanja kami studi adalah negatif terkait dengan
impuls keseluruhan perilaku pembelian yang terbukti dari kenyataan bahwa sebagian besar konsumen
biasa pembeli karena 53,3% dari mereka memegang gelar master dan dapat merencanakan pembelian mereka. Para pembeli
biasanya membeli dari toko rutin atau toko-toko dan sebagian besar menghindari membeli impuls.
Statistik dari tabel 2, menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara pra-keputusan tahap
pembelian konsumen dan perilaku membeli impuls yang dapat didukung oleh studi Piron
(1993), di mana mereka menemukan perbedaan signifikansi tinggi dan asosiasi untuk total sembilan item
menggabungkan pra-dan pasca-keputusan keputusan pembelian konsumen tahap dengan membeli impuls.
Padahal, penyimpangan dalam hasil statistik yang ditemukan dalam kasus pasca-keputusan tahap konsumen
perilaku pembelian.
Oleh karena itu, Menurut hasil analisis, orang-orang muda yang memiliki usia antara (20-29
tahun), memegang gelar sarjana dan master atau milik rumah tangga yang memiliki pendapatan lebih besar dari
12.000 Rupee yang pemboros bijak karena mereka berencana pengeluaran mereka, memiliki keterlibatan busana kurang sebagai
Tabel-3 menunjukkan bahwa di antara 165 responden mayoritas berpakaian untuk kenyamanan tidak mode. Tapi, ini lebih tinggi
kelompok pendapatan orang muda memiliki kecenderungan perilaku pembelian impulsif di pra-keputusan tahap
membeli, yang terlihat dari hasil tabel-2. Di sini, sangat penting untuk menyebutkan bahwa di Pakistan
orang muda yang menggunakan hidup dalam sistem keluarga bersama.
Tabel 3:
Tanggapan responden pada item mengenai keterlibatan busana
Saya biasanya gaun untuk fashion tidak nyaman, jika saya harus memilih antara dua (N = 165)
Frekuensi Persen Hari Persen Persen Kumulatif
Valid
Sangat tidak setuju 35 21,2 21,2 212
Sangat tidak setuju 33 20,0 20,0 41,2
Tidak setuju 20 12,1 12,1 53,3
Baik setuju maupun tidak setuju 21 12,7 12,7 66,1
Setuju 20 12,1 12,1 78,2
Sangat setuju 20 12,1 12,1 90,3
Sangat setuju 16 9,7 9,7 100,0
Jumlah 165 100,0 100,0
7. Kesimpulan
Hasil penelitian ini jelas menunjukkan bahwa ada hubungan yang lemah keluar antara konsumen
gaya hidup, fashion keterlibatan dan pasca-keputusan tahap perilaku konsumen pembelian dengan
perilaku pembelian impulsif termasuk aspek sikap serta perilaku konsumen

Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 529
perilaku pembelian. Pra-keputusan tahap perilaku pembelian konsumen didirikan hubungan yang kuat
dengan perilaku impuls membeli dari konsumen.
Jadi, itu didirikan melalui penelitian ini bahwa konsumen membeli produk di bidang
Islamabad dan Rawalpindi rencana pembelian mereka, memiliki gaya hidup belanja yang terkait dengan pembelian yang direncanakan
dan mereka pasca-keputusan juga tidak bersalah. Tahap pra-keputusan pembelian asosiasi ini
pembeli dengan membeli yang tidak direncanakan atau impuls karena hari ini toko-toko penuh dengan berbagai produk dan
pembeli dapat dengan mudah mendapatkan tertarik untuk membeli produk yang menarik baginya, sementara belanja
direncanakan daftar produk dan di sini prinsip kesenangan datang ke dalam bermain.
8. Penelitian lebih lanjut
Ada kebutuhan untuk melakukan penelitian tentang karakteristik kepribadian konsumen dan menemukan mereka
berdampak pada dorongan perilaku pembelian di Pakistan, yang dapat dibandingkan perbedaan jika penelitian
dilakukan secara terpisah dalam kelompok konsumen laki-laki dan perempuan. Penelitian yang diusulkan ini dapat membawa
ke permukaan asosiasi sebenarnya dari karakteristik kepribadian konsumen membeli impuls memiliki
perilaku dan juga akan memudahkan dalam mengidentifikasi faktor-faktor utama psikologis berpengaruh mempercepat
pembelian impuls perilaku konsumen dan pasti akan membantu para praktisi dalam meningkatkan mereka
strategi pemasaran mengenai penjualan produk.

530 Muhammad Ali Tirmizi, Kashif-ur-Rehman dan M. Iqbal Saif
Referensi
[1] Babin, BJ dan Babin, L. (2001), "Mencari sesuatu yang berbeda? Sebuah model dari skema biasanya,
mempengaruhi konsumen. Pembelian niat dan dirasakan nilai belanja ", Jurnal Bisnis
penelitian, Vol. 54 No.2, hal 89-96.
[2] Beatty, SE dan Ferrell, ME (1998), "impuls membeli: pemodelan prekursor nya", Jurnal
Ritel, Vol. 74 No 2, hlm 169-191.
[3] Bellenger, DD, Robertson, D. dan Hirschman, E. (1978), "Bervariasi Membeli impuls oleh
Produk, "Journal of Advertising Research, 18 (Desember), 15-18.
[4] Cha, J. (2001), "Perencanaan dan terencana membeli pakaian tipologi dan variabel terkait",
tesis tidak diterbitkan, Universitas Nasional Seoul, Seoul (konsultasikan Link Park).
[5] Cobb, CJ dan Hoyer, WD (1986), "Direncanakan Versus Perilaku Pembelian Impulse", Jurnal
Ritel, Vol. 62 No.4, hlm 384-409. Diperoleh, 16 Mei 2007, dari http://web.ebscohost.com
[6] Dittmar, H. dan Drury, J. (2000), "Self-gambar - apakah itu tas? Sebuah perbandingan kualitatif antara
biasa dan berlebihan konsumen ", Jurnal Psikologi Ekonomi, Vol. 21 No 2, hal 109 -
142.
[7] Du Pont, D. N dan Perusahaan. (1965), Kebiasaan Membeli Studi Konsumen, Wilmington, DE Du
Pont De Nemours and Company.
[8] Survei Ekonomi Pakistan, (2006-07). "Inflasi," Bab tidak ada 08, (hlm 119-144).Diperoleh,
17 Juni 2007, dari http://www.finance.gov.pk
[9] Fairhurst, AE, Baik, LK dan Gentry, JW (1989), "Fashion keterlibatan: instrumen
validasi prosedur ", Pakaian dan Tekstil Jurnal Penelitian, Vol. 7 NO3, hlm 10-14.
[10] Federal Bureau of Statistics, Tabel Distribusi Pendapatan Rumah Tangga di Pakistan. Diperoleh,
17 Juni 2007, dari http://www.pakistan.gov.pk/statistics-division/index.jsp
[11] Freud, S. (1956), "Formulasi pada Dua inciples Pr Berfungsi Mental," dalam The
Standar Edisi Pekerjaan Psikologis lengkap Sigmund Freud dan A., eds. Jakarta:
Hogarth.
[12] Han, YK, Morgan, GA, Kotsiopulos, A. dan Kang, PJ (1991), "Impuls perilaku pembelian
pembelian pakaian ", Pakaian dan Tekstil Jurnal Penelitian, vol.9 No 3, hal 15-21.
[13] Hausman, A. (2000), "Sebuah metode multi-penyelidikan motivasi konsumen dalam impuls
perilaku pembelian ", Jurnal Pemasaran Konsumen, vol.17 No 15, hlm 403-419.
[14] Kacen, JJ, dan Lee, JA (2002), "Pengaruh Budaya pada Impulse Konsumen Membeli
Perilaku, "Jurnal Perilaku Membeli Konsumen Impulse, Vol. 12 (2), hlm 163-176.
[15] Ko, S. (1993), "Studi tentang impuls membeli produk pakaian", diterbitkan Guru
tesis, Universitas Nasional Seoul, Seoul. (Konsultasikan Link Park)
[16] Kollat, D. T, dan Willett, Ronald. P. (1967), "Pelanggan Perilaku Pembelian Impulse," Jurnal
Riset Pemasaran, 4 (Februari), hlm 21-31.
[17] Mai, NTT, Jung, K., Lantz, G. dan Loeb, SG (2003), "Sebuah Investigasi eksplorasi ke
Perilaku Membeli Impulse dalam Transisi Ekonomi: Sebuah Studi Konsumen Perkotaan di
Vietnam, "Jurnal Pemasaran Internasional, Vol. 11 No.2, hal 13-35.
[18] Taman, EJ, Kim, EY dan Forney, JC (2006), "Sebuah model Struktural Fashion berorientasi
Impulse Membeli Perilaku ", Jurnal Pemasaran Fashion dan Manajemen, Vol. 10 No 4, hal
433-446. Diperoleh, 16 Mei 2007, dari http://www.emeraldinsight.com/1361-2026.htm
[19] Piron, F. (1993), "Sebuah Perbandingan Reaksi Emosional Dialami Direncanakan, terencana
dan Pembeli Impulse ", Kemajuan dalam Consumer Research, Vol. 20, 341-344.Diperoleh Mei
16, 2007, dari http://web.ebscohost.com
[20] Prasad, K. (1975), "Membeli terencana dalam Dua Pengaturan Ritel," Journal of Ritel, 51 (Musim Gugur),
hlm 3-12.
[21] Rook, DW (1987), "The Impulse membeli," Journal of Consumer Research, Vol. 14 (2), hlm
189-199.
[22] Rook, DW, dan Fisher, RJ (1995), "Pengaruh Normatif pada Perilaku Membeli impulsif,"
Jurnal Penelitian Konsumen, Vol. 22 (3), hlm 305-413.
Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 531
[23] Rook, DW dan Gardner, MP (1993), "Dalam mood: impuls membeli yang afektif
anteseden ", Penelitian Perilaku Konsumen, Vol. 6, hal 1-26.
[24] Seo, J., Hathcote, JM dan Sweaney, AL (2001), "kausal-pakai Belanja perilaku dari perguruan tinggi
pria di Georgia, Amerika Serikat ", Jurnal Pemasaran Fashion dan Manajemen, vol.5 No.3, pp.208-
222.
[25] Stern, H. (1962), "Yang penting dari Impulse Membeli Hari ini," Journal of Marketing, Vol. 26
(April), hlm 59-62.
[26] Watson, D. dan Tellegen, A. (1985), "Menuju struktur konsensus suasana hati", Psikologis
Buletin, Vol. 98 No 2, hlm 219-235.
[27] Weinberg, P. dan Gottwald, W. (1982), "konsumen membeli impulsif sebagai akibat dari emosi",
Jurnal Bisnis penelitian, Vol. 10 No.1, hal 43-57.
[28] William, J., dan Dardis, R. (1972), "Perilaku Belanja Barang Lembut dan Pemasaran
Strategi, "Journal of Ritel, 48 (Fall), 32-41.
[29] Wikipedia, ensiklopedia bebas. (2007), "Definisi Membeli Impulse," Wikipedia rumah
halaman. Diperoleh, 17 Mei, 2007, dari http://en.wikipedia.org/wiki/impulse_buying
[30] Youn, S. dan Faber, RJ (2000), "impuls membeli: hubungannya dengan ciri-ciri kepribadian dan isyarat",

An Empirical Study of Consumer Impulse Buying Behavior in Local Markets


                                                                         Muhammad Ali Tirmizi
                         PH.D Candidate, FUIEMS, Foundation University, Islamabad, Pakistan
                                                               E-mail: m5alitahir@gmail.com
                                                                         Kashif-Ur-Rehman
                                        Associate Professor, Iqra University, Islamabad, Pakistan
                                                        E-mail: dr.kashifurrehman@gmail.com
                                                                                 M. Iqbal Saif
                             Head of the Department, Management Sciences, FUIEMS, Foundation         
                                                                University, Islamabad, Pakistan
                                                                  E-mail: drmisaif@gmail.com




Abstrak
Tulisan ini meneliti hubungan antara variabel independen yang
belanja gaya hidup konsumen, fashion keterlibatan konsumen, pra-keputusan panggung dan
pasca-keputusan tahap perilaku pembelian konsumen dengan sikap dan perilaku
aspek perilaku impuls membeli. Studi ini mencoba untuk mengeksplorasi hubungan ada
antara variabel-variabel yang terlibat, dengan menekan respon dari 165 responden dari yang lebih tinggi
kelompok pendapatan di daerah Rawalpindi dan Islamabad. Temuan utama dari studi ini
menunjukkan hubungan yang lemah keseluruhan dari himpunan variabel independen dengan
variabel dependen tetapi, analisis mendalam menemukan bahwa pra-tahap keputusan konsumen
perilaku pembelian adalah satu-satunya variabel yang mengakibatkan ke hubungan yang kuat dengan dorongan
perilaku pembelian. Memang benar bahwa orang-orang muda lebih sering mendapatkan tertarik dengan produk yang ditampilkan
di rak-rak toko dan memiliki kecenderungan yang lebih besar perilaku impuls membeli, tetapi hasil ini
kertas tidak menunjukkan adanya hubungan membeli impuls dalam kelompok pendapatan yang lebih tinggi dari orang muda
memiliki kecenderungan impuls membeli lazim. Penelitian ini melaporkan bukti baru di lapangan
perilaku membeli impuls konsumen yang berkaitan dengan pasar lokal kota kembar
Pakistan.
Kata kunci:
Belanja gaya hidup, fashion keterlibatan, pra-keputusan panggung, pasca-keputusan
panggung, Impulse perilaku pembelian, Pakistan.
1. Pengantar
Toko adalah tempat di mana pembeli membeli produk apakah itu direncanakan atau tidak direncanakan pembelian. Ini
toko menjual ratusan dan ribuan produk sehari-hari dan konsumen mengkonsumsi produk-produk di
biaya dari pendapatan mereka. Ini hanya tanggungan atas penghasilan dari orang, bahwa berapa banyak dan berapa banyak
kali dia mengunjungi toko belanja untuk membeli produk. Hal ini biasanya terlihat bahwa pembeli membeli produk
yang mereka tidak direncanakan dan fenomena pembelian yang tidak direncanakan disebut sebagai impuls

Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 523
membeli. Dalam penelitian sebelumnya, peneliti dan sarjana telah mencoba untuk mengukur pembelian impuls
berbagai jenis produk di toko-toko belanja beberapa seperti yang dilaporkan oleh Bellenger et al. (1978); Du
Pont (1965); Kollat ​​dan Willet (1967), Prasad (1975); Williams dan Dardis (1972).
Di Pakistan ada empat jenis indeks harga; Indeks Harga Konsumen (IHK), partai besar Harga
Index (WPI), Indeks Harga Sensitif (SPI) dan Deflator PDB, yang digunakan untuk menghitung inflasi.
Di antara indikator ini, penekanan utama adalah pada IHK sebagai ukuran inflasi, yang meliputi 375
item di 71 pasar dari 35 kota-kota negara (Survei Ekonomi, 2006-07). CPI nilai rata-rata di
periode (1990-1900) adalah 9,71 dan itu 5,8 dalam (2000-07). Hal ini juga terlihat bahwa tingkat inflasi di
kelompok penghasilan terendah adalah 8.3 dengan penghasilan mulai dari bawah 3.000 sampai 5.000 Rupee sebagai
dibandingkan dengan laju inflasi sebesar 7,3 dalam kurung pendapatan atas memiliki pendapatan lebih dari 12.000
Rupee. Oleh karena itu, kita dapat mengatakan dengan keyakinan bahwa kapasitas pembelian rumah tangga berbaring di atas
pendapatan braket di Pakistan telah meningkat dibandingkan dengan kelompok berpenghasilan rendah. Berikut adalah penting untuk
kutipan saham persentase dari kelompok berpenghasilan disebutkan di atas. Kelompok pendapatan 20% lebih rendah pada
Pakistan memegang 9,65 persen pangsa total pendapatan dan 20% dari kelompok penghasilan tertinggi di
Pakistan memegang 41,72% dari pangsa total pendapatan dimana sisanya pergi ke kelompok menengah penghasilan yang
48,63% yang terdiri dari 60% dari total pendapatan kelompok (Federal Bureau of Statistics, 2004-05).
Angka-angka ini dikutip di sini untuk membangun sebuah kerangka di mana kita lebih memperluas studi ini. Sekarang,
angka yang disajikan sebelumnya menunjukkan bahwa ada kecenderungan untuk membeli impuls pendapatan yang lebih tinggi
kelompok di Pakistan sebagai tingkat penghasilan mereka jelas menunjukkan tren ini.Dalam studi ini lebih dari 80 persen
dari responden (lihat lampiran) yang terkait dengan pendapatan yang lebih tinggi braket punya penghasilan lebih besar dari
12.000 Rupee per bulan. Peningkatan pakai pendapatan serta ketersediaan kredit telah mengakibatkan
peningkatan impuls membeli kebiasaan di kalangan konsumen di lingkungan ritel seperti yang dilaporkan oleh Dittmar dan
Drury (2000). Dalam rangka untuk menekan perilaku untuk membeli impuls di konsumen, kita memiliki area yang dipilih
Rawalpindi dan Islamabad untuk memulai penelitian kami. Kami berniat untuk menyelidiki bahwa apakah
tinggi pendapatan kelompok yang memiliki pendapatan yang lebih besar dari 12.000 Rupee telah membeli terencana atau tidak
perilaku.
Pertanyaan-pertanyaan dasar yang kita ingin menyelidiki dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Q1: Apakah tingkat hubungan antara gaya hidup dan belanja impuls perilaku pembelian
konsumen kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki disposable income, belanja di daerah
Rawalpindi dan Islamabad?
Q2: Apa adalah tingkat hubungan antara keterlibatan fashion dan perilaku impuls membeli
konsumen kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki disposable income, belanja di daerah
Rawalpindi dan Islamabad?
Q3: Apakah tingkat hubungan antara pra-keputusan tentang tahap pembelian dan
impuls perilaku pembelian konsumen dari kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki disposable income,
belanja di daerah Rawalpindi dan Islamabad?
Q4: Apa adalah tingkat hubungan antara pasca-keputusan tentang tahap pembelian dan
impuls perilaku pembelian konsumen dari kelompok pendapatan yang lebih tinggi memiliki disposable income,
belanja di daerah Rawalpindi dan Islamabad?
2. Alasan Studi
Hal ini terlihat bahwa belanja pemilik mal berusaha untuk mengeksploitasi impuls, yang berhubungan dengan kebutuhan dasar
untuk kepuasan instan. Seorang pembeli di toko belanja mungkin tidak bisa berbelanja khusus untuk
barang seperti gula, permen, coklat gusi gelembung,, permen dan biskuit. Namun, terkait
item berbentuk ditampilkan di tempat yang menonjol tentu akan menarik perhatian pembeli dan memicu
impuls membeli perilaku di dalamnya. Fenomena ini dengan mudah dapat dipahami dengan bantuan dua
prinsip / pasukan sebagai bagian dari review literatur psikologis, yang menafsirkan impuls sebagai
konsekuensi dari prinsip-prinsip ini bersaing / kekuatan. Prinsip-prinsip ini juga disajikan dalam makalah
Freud (1956) dan Mai, et al. (2002). Prinsip-prinsip yang tercantum di bawah:

524 Muhammad Ali Tirmizi, Kashif-ur-Rehman dan M. Iqbal Saif
a. Pertama, prinsip kesenangan
b. Kedua, prinsip realitas
Prinsip kesenangan adalah yang berhubungan dengan kepuasan langsung dirasakan oleh konsumen, sedangkan realitas
Prinsip ini terkait dengan menunda kepuasan. Selalu ada sebuah kompetisi yang sedang berlangsung antara kedua
kekuatan direpresentasikan sebagai prinsip dalam pembeli ketika mereka memasuki sebuah toko belanja dengan maksud untuk
membeli. Sebagai impuls konsekuensi perilaku yang terkait mengatasi mereka karena impuls biasanya sulit
untuk melawan dan melibatkan direncanakan pengalaman yang menyenangkan, sebagai studi tentang Rook (1987).
Dalam makalah ini kami tertarik untuk menemukan asosiasi antar variabel (melihat model Penelitian dan
model sub) tentang pengeluaran orang kelompok pendapatan atas terlepas dari keterkaitan variabel-variabel
pola impuls membeli yang berbeda terkait dengan kelompok diversifikasi pembeli.
Tulisan ini tentu akan menambah nilai basis pengetahuan yang ada dan secara bersamaan memberikan kita
keberanian untuk memanjakan diri dalam memajukan lebih lanjut penelitian dalam bidang ilmu manajemen. Studi ini juga
berguna untuk pengecer dan produsen yang ingin meningkatkan pemahaman mereka mengenai konsumen
perilaku pembelian impulsif.
3. Tujuan Studi
Tujuan dari penelitian adalah untuk menguji hubungan variabel independen yang adalah;
belanja gaya hidup, keterlibatan busana, pra-keputusan tahap, tahap pasca-keputusan konsumen mengenai
pembelian dengan variabel dependen yaitu; impuls perilaku pembelian konsumen yang berbelanja di
wilayah Rawalpindi dan Islamabad.
4. Tinjauan Literatur
Pemasaran dan peneliti konsumen selama periode empat puluh tahun telah mencoba untuk memahami konsep
impuls membeli dan didefinisikan terminologi ini dalam perspektif mereka sendiri, yang beberapa penelitian
Temuan ini dibahas di sini.
Dalam sebuah penelitian yang dilakukan oleh Cobb dan Hoyer (1986), membeli impuls didefinisikan sebagai
pembelian tidak terencana dan definisi ini juga dapat ditemukan dalam penelitian Kollat ​​dan Willet (1967).
Dalam penelitian lain oleh Rook (1987) melaporkan bahwa membeli impuls biasanya terjadi, ketika konsumen
terasa motivasi kuat yang berubah menjadi keinginan untuk membeli komoditi langsung.Beatty dan
Ferrell (1998) didefinisikan sebagai pembelian membeli impuls sesaat sebelumnya tidak memiliki tujuan atau tujuan
untuk membeli komoditas. Stern (1962) menemukan bahwa produk yang dibeli pada impuls biasanya murah.
Belanja gaya hidup didefinisikan sebagai perilaku yang ditunjukkan oleh pembeli sehubungan dengan serangkaian
tanggapan pribadi dan pendapat tentang pembelian produk seperti yang dilaporkan oleh Cobb dan Hoyer (1986).
Mereka menemukan bahwa belanja gaya hidup dan perilaku membeli impuls berkaitan erat tetapi hanya dalam kasus ini
pembeli impuls. Penelitian ini juga menyatakan bahwa pembeli impuls jatuh di tengah sebagai dari
alat pengukuran yang digunakan oleh para peneliti, menunjukkan bahwa pembeli tidak akan memilih merek yang pertama kali mereka
terlihat di pusat perbelanjaan.
Dalam penelitian yang dilakukan oleh Cha (2001); Han et al, (1991);. Ko (1993) itu dilaporkan impuls yang
perilaku pembelian tentang produk-produk fashion yang berhubungan dengan pola seperti murni, emosi diulang
serta perilaku berorientasi fashion impuls membeli. Fakta ini juga dikutip oleh Park et al.
(2006). Definisi keterlibatan mode pada dasarnya berhubungan dengan pakaian modis yang terkait dengan
pakaian. Temuan Han et al. (1991) dikutip dalam menanggapi keterlibatan fashion konsumen, yang
mungkin meningkatkan fashion berorientasi impuls membeli perilaku di antara mereka yang mengenakan busana biasa
pakaian. Fairhurst et al. (1989) dan Seo et al. (2001) menemukan hubungan langsung antara mode
Keterlibatan dan membeli pakaian. Emosi positif didefinisikan sebagai mempengaruhi dan suasana hati, yang
menentukan intensitas pengambilan keputusan-konsumen dilaporkan oleh Watson dan Tellegen (1985). Taman
(2006) menemukan hubungan positif dari emosi positif, keterlibatan mode dan fashion yang berorientasi
impuls membeli dengan perilaku membeli impuls keseluruhan konsumen. Ko (1993) melaporkan bahwa

Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 525
emosi positif dapat mengakibatkan ke dalam pembelian busana impuls terkait. Para penelitian dari Beatty dan
Ferrell (1998); Husman (2000); Rook dan Gardner (1993); Youn dan Faber, (2000) menemukan bahwa
emosi sangat mempengaruhi perilaku membeli, yang hasilnya untuk membeli konsumen impuls. Babin dan
Babin (2001) menemukan bahwa di toko niat beli konsumen dan belanja sebagian besar dapat
dipengaruhi oleh emosi. Emosi-emosi ini mungkin khusus untuk hal-hal tertentu misalnya, fitur
item, kepentingan pelanggan diri, mengukur konsumen mengevaluasi item dan pentingnya mereka berikan kepada
mereka membeli di toko.
Piron (1993) menemukan bahwa total sembilan item, kombinasi keputusan pra-dan pasca-keputusan
tahapan indikator, menghasilkan perbedaan yang signifikan dalam tinggi dan nilai korelasi untuk tidak direncanakan
pembelian dilakukan oleh konsumen mengakibatkan menjadi nilai lebih tinggi dibandingkan dengan pembelian dilakukan oleh konsumen
pada dorongan. Studi mereka menunjukkan bahwa dari keseluruhan kuesioner yang didistribusikan 361, 53 adalah
pembeli yang tidak direncanakan dan 145 adalah pembeli impuls (total = 198).
4.1. Model Penelitian
Belanja gaya hidup co nsumer
a = 0,42
a = 0. 710
Fashio n keterlibatan
a = 0,451
Sikap dan
co nsumer
Perilaku asp dll of
Impulse Bu ying
Kecenderungan dan
a = 0,653
Pra-keputusan tahap
Frekuensi
konsumen tentang membeli
consu mer
produk
a = 0,552
Pasca-decisio n tahap o f
konsumen tentang membeli
produk
Simbol dan maknanya dari model matematika
Simbol
Arti
yang Konstan
e Model kesalahan
c Konsumen
t Membeli pada waktu tertentu
Impulse Konstan ImpBB membeli Perilaku
IV-1 Shoplif Belanja gaya hidup
IV-2 Fashinv Mode keterlibatan
IV-3 Predec Pra-keputusan tahap
IV-4 Posdec Pasca keputusan tahap
4.2. Hipotesa
Hipotesis dirumuskan setelah meninjau literatur diberikan di bawah ini:
H1:
Belanja gaya hidup konsumen memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku pembelian impuls
dari konsumen.
H2:
Mode keterlibatan konsumen memiliki hubungan yang kuat dengan perilaku pembelian impuls
dari konsumen.
H3:
Pra-tahap keputusan konsumen untuk membeli produk berniat memiliki hubungan yang kuat dengan
impuls perilaku pembelian konsumen.
H4:
pasca-keputusan tahap konsumen yang telah membeli produk ini juga memiliki hubungan yang kuat dengan
pembelian impuls perilaku konsumen.
Pengujian hipotesis adalah terbatas pada data primer yang dikumpulkan dari daerah
Islamabad dan Rawalpindi (kota kembar).
5. Metodologi
5.1. Sampel
Konsumen, yang berbelanja di toko-toko umum, toko-toko, butik, pusat perbelanjaan, kecil
gerai ritel, dll, di daerah Islamabad dan Rawalpindi diambil sebagai populasi untuk penelitian ini.
Sebuah sampel yang nyaman (non-probabilitas metode sampling) dari 165 konsumen yang dikumpulkan up untuk
saat ini studi di mana responden dari penelitian ini diminta untuk menyelesaikan kuesioner pada
dasar sukarela dan tidak usaha tunggal dilakukan untuk mengejar non-responden. Di antara responden,
74,1% terkait dengan kelompok pendapatan lebih dari 20.000 Rupee, 26,1% terkait dengan pendapatan
kelompok kurang dari 20.000 Rupee, 47,9% adalah laki-laki dan 52,1% adalah perempuan, 77% adalah antara
umur (20-29), 3% adalah antara usia (50-59), 80% belum menikah dan 18,2% sudah menikah,
53,3% adalah memiliki gelar master dan 33,3% adalah memiliki gelar sarjana (lihat lampiran).
5.2. Instrumentasi
Instrumen berisi sub-bagian. Sub-bagian dari instrumen yang diambil dari berbagai
penelitian sebelumnya. Aspek perilaku membeli impuls di mana barang disusun untuk mengukur
kecenderungan impuls membeli diadopsi dari kertas Rook dan Fisher (1995) dan kemudian lebih lanjut
dimodifikasi. Padahal, aspek sikap untuk membeli impuls di mana item disusun untuk mengukur
frekuensi diadopsi dari kertas Kacen dan Lee (2002) dan kemudian dimodifikasi lebih lanjut. Skala ini
juga dapat ditemukan dalam studi Mai dkk. (2002). Bagian sub-kuesioner tentang
gaya hidup konsumen yang diadopsi dari kertas Cobb dan Hoyer (1986), dimana item yang diukur
5-titik pada skala Likert mulai dari (1 = pasti tidak setuju, 5 = pasti setuju). Bagian-sub
kuesioner tentang keterlibatan mode diadopsi dari kertas Park et al. (2006), di mana
item diukur pada 7-poin skala Likert mulai dari (1 = sangat tidak setuju, 7 = sangat setuju).Para

Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 527
sub-bagian dari kuesioner tentang tahap pra-dan pasca-keputusan keputusan pembelian konsumen
diadopsi dari kertas Piron (1993), di mana item diukur pada 5-titik skala Likert mulai
dari (1 = pasti tidak setuju, 5 = pasti setuju). Setelah mengumpulkan 100 tanggapan keandalan
instrumen diperiksa dengan bantuan Paket Statistik untuk Ilmu Sosial. Nilai
Alpha Cronbach adalah 0,710, yang dikonfirmasi keandalan instrumen dan kemudian lebih lanjut
tanggapan sampai dengan 165 dikumpulkan. Instrumen ini pada dasarnya terdiri dari empat bagian yang
pertanyaan didistribusikan tentang, gaya hidup konsumen, keterlibatan fashion, pra-keputusan panggung dan
pasca-keputusan pembelian konsumen tahap.
5.3. Prosedur
Data yang dikumpulkan adalah dengan cara berkembang dengan baik, skala diadopsi memiliki empat bagian. Instrumen ini
selanjutnya diubah sesuai dengan kebutuhan dari penelitian ini. Semua kuesioner yang
didistribusikan di antara responden di wilayah Rawalpindi dan Islamabad pribadi oleh
peneliti. Total 200 kuesioner didistribusikan, tapi 165 kuesioner kembali. Jadi,
kuesioner tingkat pemulihan setara dengan 82 persen. Data dikumpulkan dalam jangka waktu 20 hari
dan kemudian respon yang diumpankan ke Paket Statistik untuk Ilmu Sosial (SPSS) versi 15 untuk
analisis dan evaluasi. Analisis regresi berganda digunakan sebagai uji statistik untuk menentukan
derajat hubungan antara variabel yang terlibat dalam studi ini (Mai dkk., 2002).
6. Hasil dan Diskusi
6.1. Hasil
Data yang disajikan dalam tabel 2, menunjukkan hasil diekstraksi berdasarkan regresi berganda untuk menemukan
hubungan tingkat antara variabel independen dan variabel dependen.

Modifikasi atas model matematis menunjukkan bahwa hipotesis 1, 2 dan 4
ditolak berdasarkan hubungan yang lemah mereka di antara variabel yang terlibat (p> 0,05). Hipotesis 3 hanya
diterima berdasarkan asosiasi yang kuat antara variabel-variabel yang terlibat (p <0,05).
Tabel 2:
(Koefisien Beta, kesalahan standar dalam tanda kurung, t-Nilai dalam kurung dan P-Nilai-nilai dalam huruf miring)
Konstan IV-1 IV-2 IV-3 IV-4 R Square F-Statistik
1,328 .123 .076 .279 .125 .302 17,324
(0,340) (0,093) (0,041) (0,060) (0,084)
[3,908] [1,320] [1,837] [4,618] [1,494]
.000 .189 .068 .000 .137 .000
Hasil Hipotesis
H1 H2 H3 H4
Pengujian
Ditolak Ditolak Diterima Ditolak - -
Legenda:
Konstan: sikap dan perilaku aspek Tendensi Impulse Pembelian dan Frekuensi konsumen
IV-1: Belanja gaya hidup konsumen
IV-2: Mode keterlibatan konsumen
IV-3: Pra-tahap keputusan konsumen mengenai produk membeli
IV-4: Pasca-keputusan tahap produk konsumen tentang membeli
Hasil menunjukkan bahwa variabel independen dari pra-tahap keputusan konsumen tentang
membeli produk variasi akun dalam variabel dependen dengan t-nilai [4,618] yang signifikan pada
(P <0,05), dimana variabel sebagai independen; belanja gaya hidup konsumen, keterlibatan busana dari
konsumen dan pasca-tahap keputusan konsumen mengenai produk membeli akun tidak ada variasi dalam

528 Muhammad Ali Tirmizi, Kashif-ur-Rehman dan M. Iqbal Saif
variabel dependen dengan t-nilai yang tidak signifikan pada (p> 0,05). Kami menemukan bahwa ada
positif yang signifikan dampak dari variabel-variabel independen pada variabel dependen (F = 17,324) (p <
0,05). Nilai Beta untuk semua variabel independen menunjukkan hubungan yang positif dalam model
koefisien. Nilai (R-Square = 0,302) dan (R = 0,550) memprediksi hubungan yang moderat
antara set variabel independen dan variabel dependen dengan mengurangi kesalahan
prediksi oleh 30,2 persen.
6.2. Diskusi
Hubungan positif dari keterlibatan fashion dengan perilaku pembelian konsumen impuls adalah
dilaporkan oleh Park (2006). Dimana, dalam penelitian kami, statistik menunjukkan hubungan negatif antara
mode keterlibatan dan aspek sikap dan perilaku membeli impuls. Di sini, menurut
interpretasi statistik keterlibatan busana hasil tidak dapat diambil sebagai impuls membeli karena
konsumen memiliki kepentingan fashion, jika ini terjadi, biasanya membeli produk bermerek berkualitas tinggi dan
gaya dan ingin membeli pakaian fashion dari toko-toko tertentu atau butik mereka.
Studi tentang Coob dan Hoyer (1986) melaporkan hubungan yang kuat antara gaya hidup belanja
dan impuls perilaku pembelian. Tapi, gaya hidup belanja kami studi adalah negatif terkait dengan
impuls keseluruhan perilaku pembelian yang terbukti dari kenyataan bahwa sebagian besar konsumen
biasa pembeli karena 53,3% dari mereka memegang gelar master dan dapat merencanakan pembelian mereka. Para pembeli
biasanya membeli dari toko rutin atau toko-toko dan sebagian besar menghindari membeli impuls.
Statistik dari tabel 2, menunjukkan bahwa ada hubungan positif antara pra-keputusan tahap
pembelian konsumen dan perilaku membeli impuls yang dapat didukung oleh studi Piron
(1993), di mana mereka menemukan perbedaan signifikansi tinggi dan asosiasi untuk total sembilan item
menggabungkan pra-dan pasca-keputusan keputusan pembelian konsumen tahap dengan membeli impuls.
Padahal, penyimpangan dalam hasil statistik yang ditemukan dalam kasus pasca-keputusan tahap konsumen
perilaku pembelian.
Oleh karena itu, Menurut hasil analisis, orang-orang muda yang memiliki usia antara (20-29
tahun), memegang gelar sarjana dan master atau milik rumah tangga yang memiliki pendapatan lebih besar dari
12.000 Rupee yang pemboros bijak karena mereka berencana pengeluaran mereka, memiliki keterlibatan busana kurang sebagai
Tabel-3 menunjukkan bahwa di antara 165 responden mayoritas berpakaian untuk kenyamanan tidak mode. Tapi, ini lebih tinggi
kelompok pendapatan orang muda memiliki kecenderungan perilaku pembelian impulsif di pra-keputusan tahap
membeli, yang terlihat dari hasil tabel-2. Di sini, sangat penting untuk menyebutkan bahwa di Pakistan
orang muda yang menggunakan hidup dalam sistem keluarga bersama.
Tabel 3:
Tanggapan responden pada item mengenai keterlibatan busana
Saya biasanya gaun untuk fashion tidak nyaman, jika saya harus memilih antara dua (N = 165)
Frekuensi Persen Hari Persen Persen Kumulatif
Valid
Sangat tidak setuju 35 21,2 21,2 212
Sangat tidak setuju 33 20,0 20,0 41,2
Tidak setuju 20 12,1 12,1 53,3
Baik setuju maupun tidak setuju 21 12,7 12,7 66,1
Setuju 20 12,1 12,1 78,2
Sangat setuju 20 12,1 12,1 90,3
Sangat setuju 16 9,7 9,7 100,0
Jumlah 165 100,0 100,0
7. Kesimpulan
Hasil penelitian ini jelas menunjukkan bahwa ada hubungan yang lemah keluar antara konsumen
gaya hidup, fashion keterlibatan dan pasca-keputusan tahap perilaku konsumen pembelian dengan
perilaku pembelian impulsif termasuk aspek sikap serta perilaku konsumen

Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 529
perilaku pembelian. Pra-keputusan tahap perilaku pembelian konsumen didirikan hubungan yang kuat
dengan perilaku impuls membeli dari konsumen.
Jadi, itu didirikan melalui penelitian ini bahwa konsumen membeli produk di bidang
Islamabad dan Rawalpindi rencana pembelian mereka, memiliki gaya hidup belanja yang terkait dengan pembelian yang direncanakan
dan mereka pasca-keputusan juga tidak bersalah. Tahap pra-keputusan pembelian asosiasi ini
pembeli dengan membeli yang tidak direncanakan atau impuls karena hari ini toko-toko penuh dengan berbagai produk dan
pembeli dapat dengan mudah mendapatkan tertarik untuk membeli produk yang menarik baginya, sementara belanja
direncanakan daftar produk dan di sini prinsip kesenangan datang ke dalam bermain.
8. Penelitian lebih lanjut
Ada kebutuhan untuk melakukan penelitian tentang karakteristik kepribadian konsumen dan menemukan mereka
berdampak pada dorongan perilaku pembelian di Pakistan, yang dapat dibandingkan perbedaan jika penelitian
dilakukan secara terpisah dalam kelompok konsumen laki-laki dan perempuan. Penelitian yang diusulkan ini dapat membawa
ke permukaan asosiasi sebenarnya dari karakteristik kepribadian konsumen membeli impuls memiliki
perilaku dan juga akan memudahkan dalam mengidentifikasi faktor-faktor utama psikologis berpengaruh mempercepat
pembelian impuls perilaku konsumen dan pasti akan membantu para praktisi dalam meningkatkan mereka
strategi pemasaran mengenai penjualan produk.

530 Muhammad Ali Tirmizi, Kashif-ur-Rehman dan M. Iqbal Saif
Referensi
[1] Babin, BJ dan Babin, L. (2001), "Mencari sesuatu yang berbeda? Sebuah model dari skema biasanya,
mempengaruhi konsumen. Pembelian niat dan dirasakan nilai belanja ", Jurnal Bisnis
penelitian, Vol. 54 No.2, hal 89-96.
[2] Beatty, SE dan Ferrell, ME (1998), "impuls membeli: pemodelan prekursor nya", Jurnal
Ritel, Vol. 74 No 2, hlm 169-191.
[3] Bellenger, DD, Robertson, D. dan Hirschman, E. (1978), "Bervariasi Membeli impuls oleh
Produk, "Journal of Advertising Research, 18 (Desember), 15-18.
[4] Cha, J. (2001), "Perencanaan dan terencana membeli pakaian tipologi dan variabel terkait",
tesis tidak diterbitkan, Universitas Nasional Seoul, Seoul (konsultasikan Link Park).
[5] Cobb, CJ dan Hoyer, WD (1986), "Direncanakan Versus Perilaku Pembelian Impulse", Jurnal
Ritel, Vol. 62 No.4, hlm 384-409. Diperoleh, 16 Mei 2007, dari http://web.ebscohost.com
[6] Dittmar, H. dan Drury, J. (2000), "Self-gambar - apakah itu tas? Sebuah perbandingan kualitatif antara
biasa dan berlebihan konsumen ", Jurnal Psikologi Ekonomi, Vol. 21 No 2, hal 109 -
142.
[7] Du Pont, D. N dan Perusahaan. (1965), Kebiasaan Membeli Studi Konsumen, Wilmington, DE Du
Pont De Nemours and Company.
[8] Survei Ekonomi Pakistan, (2006-07). "Inflasi," Bab tidak ada 08, (hlm 119-144).Diperoleh,
17 Juni 2007, dari http://www.finance.gov.pk
[9] Fairhurst, AE, Baik, LK dan Gentry, JW (1989), "Fashion keterlibatan: instrumen
validasi prosedur ", Pakaian dan Tekstil Jurnal Penelitian, Vol. 7 NO3, hlm 10-14.
[10] Federal Bureau of Statistics, Tabel Distribusi Pendapatan Rumah Tangga di Pakistan. Diperoleh,
17 Juni 2007, dari http://www.pakistan.gov.pk/statistics-division/index.jsp
[11] Freud, S. (1956), "Formulasi pada Dua inciples Pr Berfungsi Mental," dalam The
Standar Edisi Pekerjaan Psikologis lengkap Sigmund Freud dan A., eds. Jakarta:
Hogarth.
[12] Han, YK, Morgan, GA, Kotsiopulos, A. dan Kang, PJ (1991), "Impuls perilaku pembelian
pembelian pakaian ", Pakaian dan Tekstil Jurnal Penelitian, vol.9 No 3, hal 15-21.
[13] Hausman, A. (2000), "Sebuah metode multi-penyelidikan motivasi konsumen dalam impuls
perilaku pembelian ", Jurnal Pemasaran Konsumen, vol.17 No 15, hlm 403-419.
[14] Kacen, JJ, dan Lee, JA (2002), "Pengaruh Budaya pada Impulse Konsumen Membeli
Perilaku, "Jurnal Perilaku Membeli Konsumen Impulse, Vol. 12 (2), hlm 163-176.
[15] Ko, S. (1993), "Studi tentang impuls membeli produk pakaian", diterbitkan Guru
tesis, Universitas Nasional Seoul, Seoul. (Konsultasikan Link Park)
[16] Kollat, D. T, dan Willett, Ronald. P. (1967), "Pelanggan Perilaku Pembelian Impulse," Jurnal
Riset Pemasaran, 4 (Februari), hlm 21-31.
[17] Mai, NTT, Jung, K., Lantz, G. dan Loeb, SG (2003), "Sebuah Investigasi eksplorasi ke
Perilaku Membeli Impulse dalam Transisi Ekonomi: Sebuah Studi Konsumen Perkotaan di
Vietnam, "Jurnal Pemasaran Internasional, Vol. 11 No.2, hal 13-35.
[18] Taman, EJ, Kim, EY dan Forney, JC (2006), "Sebuah model Struktural Fashion berorientasi
Impulse Membeli Perilaku ", Jurnal Pemasaran Fashion dan Manajemen, Vol. 10 No 4, hal
433-446. Diperoleh, 16 Mei 2007, dari http://www.emeraldinsight.com/1361-2026.htm
[19] Piron, F. (1993), "Sebuah Perbandingan Reaksi Emosional Dialami Direncanakan, terencana
dan Pembeli Impulse ", Kemajuan dalam Consumer Research, Vol. 20, 341-344.Diperoleh Mei
16, 2007, dari http://web.ebscohost.com
[20] Prasad, K. (1975), "Membeli terencana dalam Dua Pengaturan Ritel," Journal of Ritel, 51 (Musim Gugur),
hlm 3-12.
[21] Rook, DW (1987), "The Impulse membeli," Journal of Consumer Research, Vol. 14 (2), hlm
189-199.
[22] Rook, DW, dan Fisher, RJ (1995), "Pengaruh Normatif pada Perilaku Membeli impulsif,"
Jurnal Penelitian Konsumen, Vol. 22 (3), hlm 305-413.
Sebuah Studi Empiris Perilaku Konsumen Impulse Membeli dalam Pasar Lokal 531
[23] Rook, DW dan Gardner, MP (1993), "Dalam mood: impuls membeli yang afektif
anteseden ", Penelitian Perilaku Konsumen, Vol. 6, hal 1-26.
[24] Seo, J., Hathcote, JM dan Sweaney, AL (2001), "kausal-pakai Belanja perilaku dari perguruan tinggi
pria di Georgia, Amerika Serikat ", Jurnal Pemasaran Fashion dan Manajemen, vol.5 No.3, pp.208-
222.
[25] Stern, H. (1962), "Yang penting dari Impulse Membeli Hari ini," Journal of Marketing, Vol. 26
(April), hlm 59-62.
[26] Watson, D. dan Tellegen, A. (1985), "Menuju struktur konsensus suasana hati", Psikologis
Buletin, Vol. 98 No 2, hlm 219-235.
[27] Weinberg, P. dan Gottwald, W. (1982), "konsumen membeli impulsif sebagai akibat dari emosi",
Jurnal Bisnis penelitian, Vol. 10 No.1, hal 43-57.
[28] William, J., dan Dardis, R. (1972), "Perilaku Belanja Barang Lembut dan Pemasaran
Strategi, "Journal of Ritel, 48 (Fall), 32-41.
[29] Wikipedia, ensiklopedia bebas. (2007), "Definisi Membeli Impulse," Wikipedia rumah
halaman. Diperoleh, 17 Mei, 2007, dari http://en.wikipedia.org/wiki/impulse_buying
[30] Youn, S. dan Faber, RJ (2000), "impuls membeli: hubungannya dengan ciri-ciri kepribadian dan isyarat",